Budaya

9 Apr 2009

Orang Kristen memuji Tuhan dengan menyanyi. Orang Hindu Bali melakukan upacara ritual dengan menari. Orang Islam memanggil umat untuk menjalankan salat dengan berlagu (azan). Hal itu menunjukkan bahwa berbagai macam agama di dunia ini menghargai keindahan. Bahkan, karya-karya Tuhan sebagai sang Pencipta, kalau kita perhatikan akan menampakkan keindahan.
Perhatikan saat fajar menyingsing di ufuk timur, dengan cahaya yang bermula dari samar, pelan-pelan berproses membuat alam menjadi terang-menderang dengan matahari yang begitu perkasa seakan-akan menggagahi langit dan bumi.

Atau perhatikan gunung nan biru yang di lereng-lerengnya dihiasi sawah yang bertingkat-tingkat, sungai yang mengalir membelah hutan dengan seluruh margasatwa yang bergantian minum melepas kehausan.Tapi, keindahan seperti itu tidak akan bisa dinikmati oleh orang yang tidak punya penghayatan terhadap keindahan. Makanya, Elia Abu Madi dari Lebanon menulis, ”Barang siapa dalam dirinya tidak punya rasa keindahan, ia tidak akan bisa melihat perwujudan semesta ini sebagai sesuatu yang indah.”Jadi, agar manusia bisa menikmati segala tampilan alam di dunia ini diperlukan kepekaan perasaan. Jika seseorang tidak punya kepekaan rasa, akibatnya semua yang indah tidak akan terasa indah. Lukisan yang indah, lagu yang bagus, dan puisi yang baik, tidak akan menyentuh batin dan tidak akan menggetarkan perasaan. Karena orang tersebut tidak punya kepekaan estetik. Senar-senar kalbunya tidak peka terhadap getar keindahan.

Kepekaan terhadap keindahan itu sebenarnya bisa dilatih dengan penghayatan demi penghayatan terhadap apa yang kita lihat, kita dengar atau kita alami pada masa lalu. Apresiasi terhadap kasih sayang ibunda dan wajahnya yang semakin tua, yang dirasakan dengan penghayatan yang mendalam, akan menjadi keindahan yang tidak akan selesai untuk dikenang, karena ibu adalah pahlawan tak tertandingi.

Pelukis Affandi melukis ibunya dengan berbagai pose. Ada potret ibu Affandi setengah badan dengan pandangan yang lembut, yang melukiskan sang ibu telah mengalami gelombang hidup dengan penuh ketabahan. Ada lukisan ibu Affandi sedang duduk penuh kebijakan, yang lain sedang tidur dalam usianya yang tua. Bahkan Affandi melukis ibunya yang sedang marah dengan mata melotot, sedangkan dia sendiri digambarkan berdiri takzim di hadapan sang ibu yang marah. Dari lukisan seperti itu kita melihat keindahan cinta dan hormat yang utuh seorang anak kepada ibu yang amat berjasa. Marah seorang ibu kepada anak adalah wujud dari cinta dan kasih sayang.

Kalau kita teliti secara cermat, keindahan menjadi sesuatu yang tak terelakkan dalam hidup manusia. Misalnya dalam berpakaian, manusia akan berusaha mengenakan pakaian yang menarik, baik warna kain maupun desainnya akan dipilih sesuai selera yang berorientasi pada rasa keindahan, terutama ketika hendak tampil pada forum-forum dan acara-acara tertentu.

Apresiasi terhadap keindahan itu jika benar-benar dihayati secara mendalam dan digunakan untuk menyegarkan rasa dan jiwa kemanusiaan, akan membuat seseorang akan merasa nikmat dengan kelembutan dan kasih sayang. Baik dengan kelembutan orang lain maupun kelembutan hati sendiri untuk orang lain. Karena itu, setiap orang punya tugas untuk mengembangkan kepribadiannya dengan kelembutan jiwa yang diilhami oleh rasa keindahan. Pengalaman-pengalaman segar yang didapatkan dari penghayatan terhadap keindahan itu akan membuat hidup menjadi indah. Dalam salah satu puisinya, penyair Toto Sudarto Bachtiar menulis:

Menobatkan jadi tua tapi remaja

Tua karena denyut waktu

Tapi tetap muda karena pengalaman segar

Selalu tiba di pundakku.

Pengalaman-pengalaman segar akan didapatkan kalau manusia selalu berusaha untuk berpikir kreatif, berpikir positif, menikmati hidup rukun dan damai disertai integritas moral. Dan, yang tak kalah pentingnya ialah apresiasi yang bagus terhadap kesenian. Dengan seni hidup menjadi indah, dan menikmati karya seni tanpa harus menjadi seniman akan membuat jiwa jadi segar dan muda. Rasa keindahan kalbu atau rasa seni yang dibangun untuk keindahan moral akan membuat manusia tegar dengan kemanusiaannya. Dengan seni dan keindahan, hidup ini bukan sekadar matematis, tapi ada makna-makna lain yang menyegarkan, sehingga kehadiran diri ke dunia ini didukung dengan rohani yang merasakan indahnya hidup. Jika tidak, alangkah kering dan hampanya jiwa

Oleh D. Zawawi Imron


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post